W. Budaya

1. Desa Ketengerbendungan

Kecamatan Baturraden adalah desa wisata yang berfungsi sebagai penyangga utama obyek wisata Baturraden. Dengan potensi alamnya yang benar-benar diandalkan sebagai potensi wisata, seperti Curug Gede, Curug Kembar, Curug Kabayan. Di samping itu masih ada Rumah Putih, Jalan Kereta Tebu (Jawa: LORI), dan Wisata Pendidikan.
Dengan kesejukan alamnya dan pengairan yang baik, dua hal ini yang oleh masyarakat Desa Wisata Ketenger dimanfaatkan untuk menanam bunga potong dan kolam pancingan, sehingga itu semua bisa menambah daya tarik bagi wisatawan.
Bagi wisatawan yang berkunjung ke Desa Wisata Ketenger dapat menikmati indahnya suasana malam hari dengan hiburan kesenian seperti Calung, Ebeg, Band/Orkes Melayu ataupun Genjring. Masyarakat di Desa Wisata Ketenger menyediakan Home Stay sebanyak 41 rumah dengan kamar tidur sejumlah 74, dengan fasilitas cukup memadai. Bagi wisatawan mancanegara tidak perlu repot karena tenaga guide berbahasa Inggris telah siap, sekaligus tersedia berbagai cinderamata khas setempat.
Masyarakat di Desa Wisata Ketenger telah mampu membuat kerajinan tangan berupa tas tangan dari mute, meja-kursi atau patung dari akar pohon dan makanan khas Banyumas. Itulah potensi yang terkandung di desa Wisata Ketenger Kecamatan Baturraden, yang masih terus diupayakan peningkatannya demi kepuasan wisatawan.

curug-gede

2. PENJAMASAN JIMAT KALISALAK
Upacara Setiap tahun, ribuan orang memadati sejumlah lokasi penyimpanan berbagai jenis senjata dan jimat. Satu diantaranya, Jimat Kalisalak. Bergabunglah dengan mereka untuk ikut mengalami prosesi sakral yang telah berlangsung selama ratusan tahun.

Anda boleh percaya, dan boleh tidak mempercayai apa yang mereka percayai. Jamasan merupakan prosesi utama untuk membersihkan beragam jenis senjata tradisional dan barang yang dianggap keramat. Saat Jamasan Jimat Kalisalak, warga bahkan percaya, apa yang terjadi dengan benda-benda tersebut melambangkan ramalan mengenai situasi bumi sepanjang setahun mendatang.

Prosesi berlangsung berdasarkan penanggalan Jawa yang menggunakan perhitungan kalender berdasarkan rotasi Bulan. Pada kalender Internasional yang memakai sistem rotasi Matahari, prosesi saat ini jatuh antara bulan Maret dan April.

Pembersihan benda-benda keramat dipimpin oleh para pemelihara yang biasa dinamai Juru Kunci (Key Master). Mereka memiliki hak menjadi seorang juru kunci berdasarkan ikatan darah antarklan para juru kunci. Setiap tahun, para juru kunci dan warga akan mendaftar berbagai jenis benda pusaka, mensucikannya dan lantas menyimpannya sepanjang tahun dengan penjagaan yang ketat.

Setiap bertambah atau berkurangnya benda-benda pusaka pada saat prosesi jamasan berlangsung, dipercaya membawa ramalan mengenai situasi di masa mendatang.

Pada tahun 2007, terdapat 74 jenis benda pusaka yang dijamas oleh 12 juru kunci yang kini dipimpin oleh Ki Muraji. Selain itu, masih ada 100 orang lebih kerabat jimat atau mereka yang memiliki hak secara turun-temurun untuk turut ‘ngrumat’ jimat. Jenis itu antara lain senjata (keris, tombak, pelor, mata panah dsb), sandang ( kemben, sabuk, selendang dsb), naskah pusaka (lontar Jawa Kawi, kitab Arab, lempeng tembaga berukir huruf Cina), peralatan (gogok, apus buntut, cemeti dsb), perhiasan (kalung, gelang anting dsb), hasil bumi (beras, kelapa, gabah hitam dsb) dan bahkan organ tubuh (rambut, gigi dsb).

Penjamasan ditandai dengan penyerahan ‘ubo rampe’ (alat dan sarana) penjamasan. Kelengkapan itu antara lain jeruk bayi, bekatul, kemenyan hingga sejumlah ‘kembang’. Hanya senjata yang mengalami penjamasan menggunakan jeruk, benda-benda lain diasapi dengan kemenyan. Seluruh benda pusaka ditinggalkan Raja Mataram, Amangkurat I tatkala dikejar pemberontak Trunojoyo di abad XVI.
Karena menjadi bagian dari peninggalan kerajaan, warga percaya Jimat Kalisalak mampu mengantar seseorang mencapai jabatan tertentu dalam birokrasi pemerintahan.
Selain di Kalisalak, pada waktu yang hanya berjarak hari, dilakukan juga Jamasan Jimat Kalibening dan diseluruh tempat lain di Banyumas.

3. PENJAROAN
masjid-saka-tunggal-dan-taman-kera-cikakak1

Penjaroan merupakan kegiatan pemasangan pagar yang terbuat dari bambu sebagai tanda peringatan tahunan meninggalnya Syekh Kyai Mustholih yang dimakamkan disekitar Masjid Saka Tunggal. Kegiatan ini dilaksanakan setiap tanggal 26 & 27 Rajab.

Masjid Saka Tunggal terletak di desa Cikakak kecamatan Wangon dibangun pada tahun 1522 M, masdjid ini berjarak ± 30 km dari kota Purwokerto. Disebut Saka Tunggal karena tiang penyangga bangunan dulunya hanya berbentuk satu tiang (tunggal) . Di sekitar tempat ini terdapat hutan pinus dan hutan besar lainnya yang di huni oleh ratusan ekor kera yang jinak dan bersahabat, seperti di Sangeh Bali.
saka

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: